Wajah Baru Tanah Abang, Polemik PKL vs Pemilik Kios Pasar Blok G

No Comments

Berita

Semrawutnya para PKL (Pedagang Kaki Lima) di kawasan pasar Tanah Abang memang kerap berujung kemacetan. Hal ini akhirnya membuat Gubernur Anies Baswedan menciptakan kebijakan baru dengan menata kawasan itu mulai dari akses transportasi hingga PKL. Terhitung mulai Jumat (22/12) pagi kemarin, Tanah Abang punya wajah baru.

 

Kini jalan di sepanjang stasiun Tanah Abang telah ditutup karena ditempati ratusan PKL yang biasanya menggelar dagangan di area pasar Tanah Abang. Penutupan jalan depan stasiun itu dimulai pada pukul 08.00-18.00 WIB dan selama waktu itu, hanya bus TransJakarta yang boleh melintas. Karena hal itu, Pemprov DKI Jakarta mulai melakukan rekayasa lalu lintas, seperti dilansir Detik.

 

Bukan cuma itu saja, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan lokasi khusus untuk ojek pangkalan dan ojek online antar-jemput penumpang stasiun Tanah Abang. Lokai itu berupa lahan kosong tepat di depan gerbang stasiun yang menghadap ke jalan Jati Baru Bengkel, Jakarta Pusat. Lahan yang ditumbuhi rumput liar itu milik PT KAI dan berjarak sekitar 100 meter dari gerbang lama stasiun.

 

Sementara itu bagi penumpang yang dari dan ke stasiun Tanah Abang, disediakan 10 unit shuttle bus gratis bernama Tanah Abang Explorer. Bus gratis ini diharapkan akan berangkat setiap lima menit sekali demi mengakomodir masyarakat. Menurut Gubernur Anies, penataan kawasan Tanah Abang ini selanjutnya akan terintegrasi dengan LRT pada tahap selanjutnya. Senada dengan Anies, Wagub Sandiaga Uno juga berhasrat menjadikan pasar Tanah Abang seperti pusat perbelanjaan Grand Bazaar di Istanbul, Turki.

 

Omzet Para PKL Yang Melonjak

Kebahagiaan jelas dirasakan para PKL Tanah Abang atas kebijakan baru Pemprov DKI Jakarta. Bahkan omzet mereka pun langsung melonjak di hari pertama. Salah seorang pedagang jaket jeans bernama Erna Maulina pun mengakui jika pendapatannya meningkat drastis. “Naiknya besar. Biasanya sehari dapatnya 500 ribu rupiah. Tapi sampai tadi jam 12 siang aja sudah satu juta rupiah,” ungkapnya hari Jumat (22/12) kemarin.

 

Erna mengaku bahwa sebelumnya dia berjualan di kawasan Jati Baru dan sering mengalami pengusiran oleh Satpol PP. Dari penuturannya, untuk mendapatkan tenda gratis butuh waktu yang sangat cepat yakni hanya seminggu saja dengan syarat KTP dan materai. Sebelum jadi PKL, Erna rupanya pernah menempati lantai tiga Blok G Tanah Abang tapi dagangannya hanya laku seminggu sekali. Seperti Eran, Adri Agustin yang berjualan celana katun juga memperoleh omzet Rp 2,5 juta dari biasanya hanya Rp 1 juta.

 

Jika para PKL bahagia, pedagang Pasar Blok G justru kesal karena hal itu membuat dagangan mereka makin sepi. Padahal untuk berjualan di Blok G, mereka harus membayar sewa 10 juta rupiah untuk satu tahun. Belum lagi barang yang dijual para PKL jauh lebih murah karena tak ada beban sewa tenda. Keluhan lain juga datang dari pejalan kaki di sekitar stasiun Tanah Abang yang menyebutkan lokasi penyeberangan dewa poker jadi sempit lantaran tenda para PKL.

 

PKL Kota Tua Jadi Target Selanjutnya

Meskipun kebijakan baru Tanah Abang ini masih menuai polemik sampai ada pemilik kios yang berhasil mendapatkan tenda gratis, Pemprov DKI Jakarta sudah memiliki rencana untuk langkah selanjutnya. Di mana lokasi selanjutnya yang akan ditata ulang adalah PKL Kota Tua di Jakarta Barat. Berbeda dengan di Tanah Abang, para PKL Kota Tua akan ditata berbasis komunitas lokal.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *