Mengapa Spotify Yang Berada Di Puncak Mengalami Kerugian?

No Comments

Berita

Seperti yang dilansir dari Tirto, laman Youtube Tech In Asia pada awal bulan Juni Lalu, mengunggah sebuah video yang memperlihatkan jika Spotify berhasil mencetak rekor dengan 100 juta orang yang menjadi langganan berbayar pada April 2019. Lantas, kondisi ini membuat Spotify berada di puncak atau bisa dibilang menduduki peringkat satu di Dunia.Meskipun demikian, Aplikasi streaming musik asal Swedia belum berhasil dalam memperoleh keuntungan.Mengapa begitu?

Data Pengguna Spofity Semakin Naik

Jika menilik catatan dari data statistik pengguna, Spotify berhasil menggeser Apple music dengan 60 juta pengguna layanan berbayar per Juni 2019.Spotify banyak diminati oleh para pengguna, setelah melakukan promosi di negara Amerika dan Kanada, diantaranya seperti paket langganan keluarga, ekspansi ke perangkat Google Home Mini, dan paket streaming daring hulu.

Masih dari Tech in Asia, dikabarkan jika Spotify dari tahun 2016 bahwa pengguna premium atau berbayar terus meningkat. Berdasarkan laporan kuartal I/2019 dari Spotify menunjukkan jika ada 100 juta pelanggan premium dan 217 juta yang menjadi pengguna aktif bulanan. Dari catatan pula, jika tahun 2018 mencapai 96 juta pengguna aktif dan pengguna aktif bulanan menempuh angka 207 juta. Di tahun tersebut, Spotify menyentuh angka 48 juta pengguna dan 124 juta pengguna aktif bulanan.

Sekarang ini, Spotify sudah mencakup 97 negara, di mana aplikasi ini lebih terkenal di Eropa dan Amerika. Benua biru menempati 37 persen pengguna aplikasi togel wap ini, 30 persen berada di Amerika Utara, 32 Persen di Amerika Latin, dan 11 persen di wilayah Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Australia.

Sedangkan di wilayah Asia, Spotify masih kalah dengan pesaingnya yaitu Joox. Dari penelitian studi ISPOS pada tahun 2017 dengan judul ‘Targeting Millenials using Music Streaming Apps’, di mana di Indonesia Joox menempati urutan ke 14, di Malaysia berada di urutan ke 9, Joox di Thailand berada pada peringkat 5, menempati urutan ke 9 di Hongkong berdasarkan aplikasi yang banyak diinstal di ANDROID atau IOS. Di sisi lain, Spotify menempati urutan yang lebih jauh yakni, posisi ke 84 di Indonesia, ke 35 di Malaysia, menempati urutan 54 di Thailand, dan urutan ke 28 di Hong Kong.

Mengapa Spotify Mengalami Kerugian?

Terlepas dari jumlah pengguna Spotify di wilayah Asia, ternyata antara pengguna aplikasi dengan pendapatan tidak sejalan. Pada catatan kuartal I/2019, Spotify mengalami kerugian sebesar 142 juta Euro. Namun, kerugian ini lebih baik jika dibandingkan tahun lalu yang mencapai 169 juta euro.

Masih dalam Tech In Asia, mencatat jika Spotify merupakan pihak ketiga yang menjual konten dari label rekaman, tetapi label rekaman merupakan hak koleksi musik dari musisinya. Dari hal tersebut, model bisnis yang dijalankan oleh Spotify membuatnya harus membayar royalti.Selain itu, perlu membayar kontribusi kepada label rekaman, pihak penerbit, dan tak lupa ke pemegang hak streaming musik pada pelanggan.

Seiring bertambahnya jumlah pengguna premium, maka jumlah pendapatan yang diperoleh juga meningkat.Namun, jumlah pengguna premium tersebut juga membuat pihak Spotify harus mengeluarkan biaya yang tinggi pula.

Jadi itulah beberapa review dari aplikasi streaming musik yang menjadi nomor satu di dunia, tetapi belum sejalan dengan penghasilan yang diperoleh. Berdasarkan dari Tirto, supaya Spotify tidak mengalami kerugian secara terus menerus maka bisa mengadopsi seperti Netflix, yang mana bertindak sebagai label rekaman dan menghasilkan konten sendiri.